Midori Hirota
English / Indonesian only
The insallation works by Japanese artist Midori Hirota were forged by her feelings and flectns like a dairy of her interactions with her personal world.
Midori incorporates oroginal painting and sculpture as well as "found" objects in her installations.

Karya Midori perupa asal Jepang ini merupakan representasi dari permenungan dan pemikiran dunia subyektifnya tentang cerita sehari-harinya. Midori mengolah obyek dan merakitnya dalam sajian instalasi.




MIDORI, KALO UDAH KETEMU TUHAN KASI TAU SAYA YA!


Ketika saya diminta untuk memberikan komentar tentang karya Midori melalui sejumlah foto yang disodorkan kepada, yang belum pernah saya lihat sebelumnya, bagi saya agak sulit. Apalagi karya-karya instalasi, bagi saya berada di tengah-tengah karya instalasi adalah suatu peristiwa penting bagi seorang pengamat.

Peristiwa mengalami, merasakan dan berada di dalam ruang di mana karya-karya di letakkan. Kita akan medapatkan pengalaman visual, pengalaman yang juga dirasakan oleh tubuh kita. Merasakan diri kita berada bersama-sama di ditengah karya adalah suatu sensasi tersendiri yang tidak bisa kita rasakan hanya melalui foto. Pengalaman tadi tanpa kita sadari akan membangun pemahaman kognitif, sekaligus kita merasakan masuk ke dalam suatu atmosfer yang dibangun oleh benda-benda yang ditata, warna, cahaya dan ruang. Hal ini bisa saya bayangkan pada karya instalasi Midori di Galeri Benda pada tahun 2000, yang bertajuk "Apa Jatuh Darisana". Sensasi ini pasti berpengaruh pada rasa yang bermuara pada jiwa. Meski tidak semua karya Midori berada dalam ruang kongkret, tetapi dilihat dari kecemerlangan warna , simbol-simbol dan ukuran karya yang besar, semua itu cukup kuat dalam membangun suatu suasana yang hanya bisa dirasakan dengan kehadiran kita di depan karya-karyanya.

Sejak Midori tinggal di Bali, pada tahun 1992, nampaknya ia merasa disadarkan kembali akan eksistensi dirinya sebagai manusia yang berasal dari ciptaan Tuhan. Tuhan yang dikenalnya sejak kecil melalui Agama Budha yang dipeluknya, nampaknya tidak memberikan pemahaman akan Tuhan, agama dan kedamaian secara utuh. Sehingga kehadirannya di Bali dimana dia melihat ritus dari umat Hindu yang secara nyata menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dengan membuat sesajen dan sebagainya, menggugah kesadarannya untuk mempertanyakan kembali hubungan dirinya dengan Tuhan yang telah lama dilupakannya. Aktifitas pemujaan masyarakat di Bali ditangkapnya melalui simbolisasi visual yang sangat menarik. Aktifitas ritual yang setiap hari disuguhkan dalam kehidupan Midori nampaknya memberikan suatu pemahaman bahwa hubungan dengan Tuhan bisa dimanifestasikan dalam simbol-simbol visual yang bersifat pribadi pula.

Tentunya hal ini berangkat dari pencarian Midori akan Tuhan yang bersifat pribadi dan tidak harus di wadahi oleh suatu institusi keagamaan atau agama tertentu. Hal ini terungkap dalam pernyataanya bahwa di Jepang yang mayoritas beragama Budha tidak secara ketat menempatkan ritus sebagai bagian dari pemujaan. Pemahaman terhadap agama nampaknya lebih sebagai pemahaman terhadap etika dan moral yang direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pemaknaan pencarian Tuhan diyakini sebagai hal yang bersifat pribadi dan pemaknaan ini perlu direpresentasikan dalam kehidupan Midori yang juga seorang perupa, maka muncullah simbol-simbol yang bersifat pribadi juga. Ikon-ikon yang mewakili kerinduan, pencarian terhadap Tuhan diyakininya akan menciptakan kedamaian dalam dirinya. Semua ini digambarkan secara sangat duniawi atau sangat keseharian. Misalnya hubungan dengan Tuhan yang bersifat vertikal digambarkannya dengan tangga. Air dari atas yang menetes ke bawah dan dirinya sebagai perempuan dilambangkan sebagai bejana yang mengharapkan tetesan air yang menyejukkan berasal dari Tuhan. Manusia duduk di kursi -seperti diruang tunggu dokter - yang menunggu Tuhan datang dan mengajaknya berdarmawisata ke dalam diri Nya dengan melalui tangga. Kalau kemudian simbolisasi ini dianggap naif, kekanak-kanakan, atau keduniawian, boleh juga, kenapa tidak. Toh pencarian Tuhan bisa sangat pribadi sekali. Pemahaman Midori ini tumbuh dari dirinya sebagai pribadi yang didasari oleh pengalaman keduniawian. Dari sini nampaknya pencarian Tuhan, kedamaian dan pengalaman estetis yang duniawi sifatnya, melahirkan sikap Midori bahwa pencarian Tuhan adalah pertemuan antara hal yang bersifat idea, spiritual dan sekailigus realitas. Kesadaran ini kemudian menjadikan karya seni dengan perlambangan yang dibangun melalui bentuk dan gambaran keseharian dipadukan dengan yang spiritual.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah ini tidak menyebabkan terjadinya degradasi nilai spiritual pada proses pencarian tadi? Hal ini tak lepas dari keinginan yang barangkali tidak disadari - untuk meletakan kehidupan spiritual dalam realitas kehidupansehari-hari, dimana manusia dianggap akan lebih mudah memahami arti spritualitas ketika diletakkannya dalam kehidup yang kongkret dan keseharian. Semua ini berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan spiritual tidak terpisahkan dengan kehidupan yang konkret dan keseharian. Bicara tentang keduniawian atau pengalaman hidupnya, tak pelak lagi bahwa di dalamnya terdapat pengalaman estetis. Pengalaman estetis yang didapat dari perjumpaannya dengan alam, lingkungan sosialnya dan sebagainya. Midori terdorong untuk mencatat semua pengalaman kesehariannya, hal ini wajar sebagai seorang manusia yang selalu terdorong untuk menunjukkan eksistensinya dengan menghadirkan catatan tadi. Pertemuan antara kerinduan terhadap Tuhan dan keinginan untuk menuturkan pengalaman hidupnya menjadi suatu jalinan yang unik, meriah, penuh warna dan sangat pribadi. Hal ini nampak pada karya-karya yang menampilkan image dari alam, manusia dan sebagainya. Image alam, manusia, bejana diletakan dalam posisi yang mendua. Pada satu sisi sebagai catatan kehidupan duniawi pada sisi lain diletakkan sebagai simbol pencarian. Jalinan ini menjadikan karya Midori menjadi unik, tetapi juga sulit dipahami, karena tidak berbicara secara verbal. Ketegangan yang terjadi akibat tarik menarik antara yang spiritual dan realitas ini menjadi kekuatan pada karya-karya Midori. Tanpa ketegangan ini maka mungkin sekali karya seni hanya sebagai media pemujaan yang stereotip, yang melahirkan simbol-simbol hubungan vertikal, antara manusia dan Tuhannya, dan selesai. Akan tetapi keberadaannya di Indonesia pada tahun ke 9 ini setidak-tidaknya diharapkan Midori sudah mampu menseleksi antara kekaguman terhadap benda-benda etnis, agar tidak terkesan sebagai ungkapan orang asing dalam melihat Indonesia yang eksotis. Dengan demikian, maka esensi permasalahan bisa tampil tanpa terganggu oleh kehadiran benda-benda aneh. Selamat berpameran, kalo sudah ketemu sama Tuhan mu, kasi tau saya ya! Dan kalo sudah mendapatkan kedamaian, kasi tau formulanya ke pada para teroris, supaya dunia ini dame. Salam?


Jakarta 11 Oktober 2001 (percis sebulan WTC ditabrak kapal terbang) FX Harsono Perupa