MIDORI, KALO UDAH KETEMU TUHAN KASI TAU SAYA YA!
Ketika saya diminta untuk memberikan komentar tentang karya Midori
melalui sejumlah foto yang disodorkan kepada, yang belum pernah
saya lihat sebelumnya, bagi saya agak sulit. Apalagi karya-karya
instalasi, bagi saya berada di tengah-tengah karya instalasi adalah
suatu peristiwa penting bagi seorang pengamat.
Peristiwa mengalami, merasakan dan berada di dalam ruang di mana
karya-karya di letakkan. Kita akan medapatkan pengalaman visual,
pengalaman yang juga dirasakan oleh tubuh kita. Merasakan diri kita
berada bersama-sama di ditengah karya adalah suatu sensasi tersendiri
yang tidak bisa kita rasakan hanya melalui foto. Pengalaman tadi
tanpa kita sadari akan membangun pemahaman kognitif, sekaligus kita
merasakan masuk ke dalam suatu atmosfer yang dibangun oleh benda-benda
yang ditata, warna, cahaya dan ruang. Hal ini bisa saya bayangkan
pada karya instalasi Midori di Galeri Benda pada tahun 2000, yang
bertajuk "Apa Jatuh Darisana". Sensasi ini pasti berpengaruh pada
rasa yang bermuara pada jiwa. Meski tidak semua karya Midori berada
dalam ruang kongkret, tetapi dilihat dari kecemerlangan warna ,
simbol-simbol dan ukuran karya yang besar, semua itu cukup kuat
dalam membangun suatu suasana yang hanya bisa dirasakan dengan kehadiran
kita di depan karya-karyanya.
Sejak Midori tinggal di Bali, pada tahun 1992, nampaknya ia merasa
disadarkan kembali akan eksistensi dirinya sebagai manusia yang
berasal dari ciptaan Tuhan. Tuhan yang dikenalnya sejak kecil melalui
Agama Budha yang dipeluknya, nampaknya tidak memberikan pemahaman
akan Tuhan, agama dan kedamaian secara utuh. Sehingga kehadirannya
di Bali dimana dia melihat ritus dari umat Hindu yang secara nyata
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dengan membuat sesajen
dan sebagainya, menggugah kesadarannya untuk mempertanyakan kembali
hubungan dirinya dengan Tuhan yang telah lama dilupakannya. Aktifitas
pemujaan masyarakat di Bali ditangkapnya melalui simbolisasi visual
yang sangat menarik. Aktifitas ritual yang setiap hari disuguhkan
dalam kehidupan Midori nampaknya memberikan suatu pemahaman bahwa
hubungan dengan Tuhan bisa dimanifestasikan dalam simbol-simbol
visual yang bersifat pribadi pula.
Tentunya hal ini berangkat dari pencarian Midori akan Tuhan yang
bersifat pribadi dan tidak harus di wadahi oleh suatu institusi
keagamaan atau agama tertentu. Hal ini terungkap dalam pernyataanya
bahwa di Jepang yang mayoritas beragama Budha tidak secara ketat
menempatkan ritus sebagai bagian dari pemujaan. Pemahaman terhadap
agama nampaknya lebih sebagai pemahaman terhadap etika dan moral
yang direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pemaknaan
pencarian Tuhan diyakini sebagai hal yang bersifat pribadi dan pemaknaan
ini perlu direpresentasikan dalam kehidupan Midori yang juga seorang
perupa, maka muncullah simbol-simbol yang bersifat pribadi juga.
Ikon-ikon yang mewakili kerinduan, pencarian terhadap Tuhan diyakininya
akan menciptakan kedamaian dalam dirinya. Semua ini digambarkan
secara sangat duniawi atau sangat keseharian. Misalnya hubungan
dengan Tuhan yang bersifat vertikal digambarkannya dengan tangga.
Air dari atas yang menetes ke bawah dan dirinya sebagai perempuan
dilambangkan sebagai bejana yang mengharapkan tetesan air yang menyejukkan
berasal dari Tuhan. Manusia duduk di kursi -seperti diruang tunggu
dokter - yang menunggu Tuhan datang dan mengajaknya berdarmawisata
ke dalam diri Nya dengan melalui tangga. Kalau kemudian simbolisasi
ini dianggap naif, kekanak-kanakan, atau keduniawian, boleh juga,
kenapa tidak. Toh pencarian Tuhan bisa sangat pribadi sekali. Pemahaman
Midori ini tumbuh dari dirinya sebagai pribadi yang didasari oleh
pengalaman keduniawian. Dari sini nampaknya pencarian Tuhan, kedamaian
dan pengalaman estetis yang duniawi sifatnya, melahirkan sikap Midori
bahwa pencarian Tuhan adalah pertemuan antara hal yang bersifat
idea, spiritual dan sekailigus realitas. Kesadaran ini kemudian
menjadikan karya seni dengan perlambangan yang dibangun melalui
bentuk dan gambaran keseharian dipadukan dengan yang spiritual.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah ini tidak menyebabkan terjadinya
degradasi nilai spiritual pada proses pencarian tadi? Hal ini tak
lepas dari keinginan yang barangkali tidak disadari - untuk meletakan
kehidupan spiritual dalam realitas kehidupansehari-hari, dimana
manusia dianggap akan lebih mudah memahami arti spritualitas ketika
diletakkannya dalam kehidup yang kongkret dan keseharian. Semua
ini berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan spiritual tidak terpisahkan
dengan kehidupan yang konkret dan keseharian. Bicara tentang keduniawian
atau pengalaman hidupnya, tak pelak lagi bahwa di dalamnya terdapat
pengalaman estetis. Pengalaman estetis yang didapat dari perjumpaannya
dengan alam, lingkungan sosialnya dan sebagainya. Midori terdorong
untuk mencatat semua pengalaman kesehariannya, hal ini wajar sebagai
seorang manusia yang selalu terdorong untuk menunjukkan eksistensinya
dengan menghadirkan catatan tadi. Pertemuan antara kerinduan terhadap
Tuhan dan keinginan untuk menuturkan pengalaman hidupnya menjadi
suatu jalinan yang unik, meriah, penuh warna dan sangat pribadi.
Hal ini nampak pada karya-karya yang menampilkan image dari alam,
manusia dan sebagainya. Image alam, manusia, bejana diletakan dalam
posisi yang mendua. Pada satu sisi sebagai catatan kehidupan duniawi
pada sisi lain diletakkan sebagai simbol pencarian. Jalinan ini
menjadikan karya Midori menjadi unik, tetapi juga sulit dipahami,
karena tidak berbicara secara verbal. Ketegangan yang terjadi akibat
tarik menarik antara yang spiritual dan realitas ini menjadi kekuatan
pada karya-karya Midori. Tanpa ketegangan ini maka mungkin sekali
karya seni hanya sebagai media pemujaan yang stereotip, yang melahirkan
simbol-simbol hubungan vertikal, antara manusia dan Tuhannya, dan
selesai. Akan tetapi keberadaannya di Indonesia pada tahun ke 9
ini setidak-tidaknya diharapkan Midori sudah mampu menseleksi antara
kekaguman terhadap benda-benda etnis, agar tidak terkesan sebagai
ungkapan orang asing dalam melihat Indonesia yang eksotis. Dengan
demikian, maka esensi permasalahan bisa tampil tanpa terganggu oleh
kehadiran benda-benda aneh. Selamat berpameran, kalo sudah ketemu
sama Tuhan mu, kasi tau saya ya! Dan kalo sudah mendapatkan kedamaian,
kasi tau formulanya ke pada para teroris, supaya dunia ini dame.
Salam?
Jakarta 11 Oktober 2001 (percis sebulan WTC ditabrak kapal terbang)
FX Harsono Perupa